Pertumbuhan bisnis tidak akan pernah cukup jika hanya ditopang oleh peningkatan angka penjualan semata. Ketika sebuah usaha mulai menunjukkan perkembangan, para *founder* dan pemilik usaha dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks, yaitu memperkuat fondasi internal.
Fondasi ini mencakup sistem kerja yang terstruktur, sumber daya manusia yang memadai, serta model bisnis yang mampu mengikuti skala pertumbuhan atau *scalable*. Tanpa persiapan yang matang dari dalam, bisnis berisiko runtuh di tengah jalan meskipun angka penjualan di atas kertas tampak menjanjikan.
Melampaui Angka Penjualan: Mengapa Fondasi Internal Adalah Kunci
Dalam membangun sebuah usaha, orientasi awal sering kali berpusat pada bagaimana produk bisa laku di pasaran. Namun, penjualan yang tinggi tanpa didukung oleh operasional yang stabil justru bisa menjadi bumerang bagi perusahaan.
Tiga pilar utama yang harus diperhatikan agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan meliputi:
- Sistem Kerja: Prosedur operasional yang jelas agar bisnis tidak bergantung pada satu individu saja.
- Sumber Daya Manusia (SDM): Talenta yang kompeten untuk menjaga konsistensi kualitas layanan dan produk.
- Model Bisnis: Format bisnis yang fleksibel dan mampu beradaptasi dengan dinamika pasar.
Evolusi Peran Founder: Dari Eksekutor Menjadi Pembangun Sistem
Co-Founder Otten Coffee, Jhoni Kusno, mengungkapkan bahwa membangun bisnis membutuhkan komitmen dan fokus yang kuat. Pada tahap awal, tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh seorang *founder* adalah memastikan bisnis mampu bertahan hidup (*survival*), sebelum akhirnya menemukan dan mengembangkan kesesuaian antara produk dengan kebutuhan pasar atau yang dikenal sebagai *product-market fit*.
Setelah tahap kecocokan produk dengan pasar tercapai, fokus perusahaan harus segera bergeser ke arah penciptaan penjualan dengan biaya seefisien mungkin. Dari sisi finansial, perusahaan juga wajib menjaga arus kas tetap sehat dan stabil agar operasional harian tetap berjalan lancar sekaligus mendukung ekspansi ke tahap berikutnya.
Berikut adalah perbandingan fokus dan prioritas *founder* antara fase awal dan fase pertumbuhan bisnis:
| Fase Bisnis | Fokus Utama Founder | Tantangan Kunci |
|---|---|---|
| Fase Awal | Memastikan bisnis bertahan hidup dan mencapai *product-market fit*. | Validasi produk, efisiensi biaya, dan stabilitas arus kas. |
| Fase Pertumbuhan | Membangun sistem operasional, *build people*, dan memperluas ekosistem. | Kompleksitas operasional, kualitas talenta, dan kesiapan *scale up*. |
Menurut Jhoni, pada fase awal seorang *founder* memang bertugas untuk membangun bisnis (*build the business*). Namun, seiring dengan perkembangan usaha, peran tersebut harus bergeser menjadi membangun manusia (*build people*) dan merancang ekosistem yang solid untuk menopang masa depan perusahaan.
Membangun Sistem yang Adaptif dan Scalable
Seiring bertambahnya usia bisnis, kompleksitas masalah yang dihadapi secara otomatis akan meningkat. Seorang *founder* tidak bisa lagi hanya mengandalkan rutinitas yang sama tanpa melakukan pembenahan pada sistem internal.
Jika pola kerja lama terus dipertahankan tanpa ada inovasi, sistem bisnis pada akhirnya akan gagal mengimbangi kecepatan perkembangan usaha. Oleh karena itu, mengubah pola pikir menjadi langkah awal yang krusial untuk membangun sistem yang adaptif.
Salah satu langkah nyata dalam pembenahan ini adalah berinvestasi pada talenta atau sumber daya manusia. Keberlangsungan bisnis sangat ditentukan oleh kualitas tim di dalamnya. Dengan dukungan tim yang tepat serta sistem yang terstruktur, operasional perusahaan dapat berjalan secara konsisten, proses pengambilan keputusan menjadi lebih terukur, dan perusahaan memiliki pijakan kuat untuk melakukan *scale up* tanpa kehilangan kendali.
Meluruskan Mitos Pendanaan dalam Skalabilitas Bisnis
Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh sebagian pelaku bisnis adalah langsung memburu pendanaan eksternal (*funding*) sejak hari pertama usaha didirikan. Padahal, modal memang penting, khususnya ketika bisnis sudah masuk tahap ekspansi, namun pendanaan bukanlah satu-satunya jalan keluar untuk mengembangkan usaha.
Berdasarkan pengalaman langsung dalam membangun Otten Coffee, tambahan modal dari investor tidak akan memberikan dampak signifikan jika kesiapan internal perusahaan belum matang. Hal ini mencakup kesiapan operasional untuk berkembang, kualitas talenta yang belum memadai, serta model bisnis yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar.
Sebelum memutuskan untuk mencari pendanaan luar, seorang *founder* harus memastikan bahwa fondasi internal bisnis sudah cukup kuat untuk mengelola, mengalokasikan, dan mengoptimalkan modal yang nantinya diterima.
Kekuatan Ekosistem dan Jejaring Lintas Industri
Selain memperkuat sistem dari dalam, *founder* juga harus aktif membangun koneksi di luar batas perusahaannya. Jhoni Kusno menekankan bahwa *partnership* merupakan jembatan penting untuk merealisasikan berbagai inisiatif baru, mengingat seorang *founder* tidak mungkin mengerjakan segala sesuatunya sendirian.
Membangun jejaring bisnis sejak fase awal terbukti efektif untuk mendorong proses *scale up*. Setiap industri tentu memiliki karakteristik tantangan yang berbeda. Melalui pertukaran pengalaman dengan pelaku usaha dari sektor lain, *founder* dapat memperluas perspektif dan menemukan pendekatan segar dalam memecahkan masalah.
Sebagai contoh, ketika mengembangkan bisnis di sektor F&B, seorang *founder* tidak harus selalu berdiskusi eksklusif dengan sesama pelaku F&B. Mengamati perkembangan teknologi, seperti pemanfaatan robot barista, dapat membuka peluang baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Relationship Banking Director Bank Saqu, Hendrik Komandangi. Menurutnya, laju perkembangan usaha tidak semata-mata ditentukan oleh kehebatan *founder* dalam mengelola manajemen internal, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh dukungan ekosistem yang tepat.
Hal tersebut sejalan dengan temuan dalam laporan Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2024/25. Laporan tersebut mencatat bahwa lebih dari 50% usaha mikro dan kecil yang mengakses satu atau lebih bentuk dukungan bisnis dalam kurun waktu 12 bulan terakhir berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan 37% usaha serupa yang berjalan tanpa dukungan bisnis.
Bagi para solopreneur yang sedang merintis fondasi usaha, bentuk dukungan tersebut bisa bermacam-macam, mulai dari pendampingan finansial, pelatihan pemasaran digital, hingga *peer networking* untuk memperluas wawasan dan membuka peluang kolaborasi lintas sektor.
Melalui program seperti Solopreneur Society: The Founders Club 2026, pendekatan kolaboratif yang mencakup *industry insights*, *networking*, dan *business matchmaking* dihadirkan untuk membantu para *founder* melihat peluang bisnis dari sudut pandang yang jauh lebih luas serta membuka ruang ekspansi pasar yang lebih matang.



