Bisnis produk herbal di Indonesia terus berkembang seiring dengan tingginya minat masyarakat terhadap manfaat kesehatan alami. Salah satu merek yang menonjol adalah Kutus Kutus, produk herbal beraroma khas yang terbuat dari puluhan jenis rempah-rempah pilihan seperti jintan hitam, kunyit, dan temulawak. Di balik kesuksesan merek ini, terdapat kisah perjalanan panjang tentang bagaimana sebuah standar kualitas dijaga secara konsisten.
Bagi pemilik sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Kutus Kutus, Fazli Hasniel Sugiharto, yang akrab disapa Arniel Sugiharto, pengalaman masa lalu bukan sekadar kenangan. Pengalaman tersebut menjadi fondasi utama dari cara Kutus Kutus memandang kualitas hingga hari ini.
Fondasi Kualitas dari Pasar Tradisional
Arniel menuturkan bahwa ia mengenal seluk-beluk bahan baku herbal bukan dari buku atau pelatihan formal. Pengetahuan itu lahir dari kebiasaan almarhumah ibunya, Lilies Susanti Handayani, yang hampir setiap pagi buta pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja rempah.
Sejak usia muda, Arniel terbiasa mendampingi sang ibu. Ia mengamati bagaimana perempuan tersebut memilih, mencium aroma, meraba tekstur, dan menimbang satu per satu bahan yang akan digunakan. Bagi Arniel, pasar adalah ruang belajar pertama yang membentuk pemahamannya tentang arti bahan baku yang baik.
“Dulu saya pikir pergi ke pasar itu hanya soal belanja. Baru setelah dewasa saya sadar, ibu saya sedang mengajari saya sesuatu yang jauh lebih penting: cara mengenali kualitas,” ujar Arniel dalam keterangannya.

Ibunda Arniel tidak pernah asal mengambil barang. Almarhumah selalu mencium, meraba, membandingkan, lalu memutuskan. Jika bahan tidak sesuai standar, ia akan meninggalkannya meskipun harganya lebih murah. Dari kebiasaan itu, Arniel belajar bahwa kualitas produk herbal tidak pernah bisa dilepaskan dari kualitas bahan bakunya. Sebaik apa pun proses produksi yang dijalankan, jika bahan yang masuk tidak memenuhi standar, hasil akhirnya tidak akan pernah maksimal. Prinsip inilah yang kemudian ia bawa ke dalam pengelolaan usaha Kutus Kutus.
Disiplin Standar Bahan Baku
Ketika Kutus Kutus mulai diproduksi dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas, standar ketat tetap diberlakukan. Arniel menjelaskan bahwa setiap bahan baku yang diterima perusahaan harus melalui proses pemeriksaan yang teliti.
Beberapa kriteria utama yang diperhatikan dalam pemeriksaan bahan baku meliputi:
- Kondisi fisik bahan dan keutuhan rempah yang terjaga dengan baik.
- Tidak adanya tanda-tanda jamur pada permukaan bahan.
- Warna bahan yang sesuai dengan karakteristik jenis rempahnya.
- Aroma yang masih tajam dan khas.
- Kadar air yang terjaga agar bahan tidak mudah rusak dan khasiatnya tetap optimal.
“Kalau ada satu saja yang tidak lolos, kami tidak memaksakan. Bahan itu kami kembalikan atau kami sisihkan. Ini bukan soal terlalu teliti atau tidak. Ini soal tanggung jawab. Produk ini diminum orang, dioleskan ke tubuh orang. Tidak ada ruang untuk kompromi,” tegas Arniel.
Selain pemeriksaan fisik, Arniel juga menekankan pentingnya pemilihan pemasok. Hubungan dengan pemasok dibangun sebagai kemitraan jangka panjang atas dasar kepercayaan dan konsistensi. Pemasok yang memahami standar Kutus Kutus akan lebih mudah menjaga kualitas pasokan dari waktu ke waktu, sehingga produk yang dihasilkan tetap memiliki karakter yang sama seperti saat pertama kali diracik.

Menjaga Warisan Lewat Konsistensi dan Sentuhan Manusia
Bagi Arniel, menjaga konsistensi bahan baku dan proses produksi merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan resep sang ibu. Resep Kutus Kutus yang terdiri dari 69 jenis herbal tidak pernah diubah, baik dari segi komposisi maupun proporsinya. Setiap bahan ditimbang dengan takaran yang sama, diolah dengan urutan yang sama, dan direbus dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Menariknya, hingga kini sebagian besar proses produksi Kutus Kutus masih dikerjakan secara manual, termasuk dalam hal peracikan dan perebusan. Menurut Arniel, sentuhan manusia memungkinkan peramu untuk merasakan perbedaan halus yang tidak bisa ditangkap oleh mesin.
“Mesin bisa menimbang dengan presisi. Tapi mesin tidak bisa mencium aroma yang berubah, tidak bisa meraba tekstur yang mulai mengental. Itu yang membuat kami memilih tetap manual di titik-titik tertentu. Bukan karena kami menolak teknologi, tetapi karena ada nilai yang harus dijaga,” ungkapnya.
Masa Depan Industri Herbal Indonesia
Melihat lanskap industri saat ini, Arniel menilai bahwa tantangan terbesar industri herbal di Indonesia bukanlah pada ketersediaan bahan baku, mengingat kekayaan hayati nusantara yang sangat melimpah. Tantangan utamanya terletak pada kemampuan pelaku usaha untuk menjaga standar secara konsisten di tengah konsumen yang semakin cerdas dan kritis.
Konsumen modern tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga ingin tahu bagaimana sebuah produk dibuat dan dari mana bahan-bahannya berasal. Arniel berharap semakin banyak pelaku industri herbal Indonesia yang menyadari bahwa kualitas bukanlah sekadar klaim pemasaran, melainkan disiplin yang dijalankan setiap hari.
“Kualitas itu bukan tujuan akhir, tapi perjalanan yang harus dijalani setiap hari. Mulai dari bangun pagi, pergi ke pasar, memilih bahan, sampai produk sampai ke tangan konsumen. Kalau satu langkah saja dilewati, maka seluruh rantainya akan lemah,” pungkas Arniel.



