Pound Sterling mencatatkan penguatan signifikan terhadap Dolar AS pada hari perdagangan Rabu, mencapai level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir. Pergerakan ini terjadi di tengah dinamika politik Amerika Serikat dan penantian investor terhadap keputusan kebijakan moneter dari bank sentral Inggris.
Pound Inggris Melonjak ke Level Tertinggi Tujuh Pekan
Pasangan mata uang GBP/USD sempat menyentuh level tertinggi tujuh minggu di 1,3503 sebelum akhirnya mengalami sedikit koreksi dan diperdagangkan di bawah level 1,35, tepatnya di kisaran 1,3465. Secara harian, mata uang Negeri Ratu Elizabeth ini mencatatkan kenaikan sebesar 0,55% di tengah ketidakpastian pasar global yang menekan Greenbank.
Dampak Pemilu Paruh Waktu AS terhadap Dolar AS
Tekanan utama pada Dolar AS berasal dari hasil pemilu paruh waktu di Amerika Serikat. Berdasarkan jajak pendapat yang ada, Partai Demokrat diprakirakan akan memenangkan DPR AS dan Senat AS. Situasi ini dipandang sebagai pukulan bagi Presiden AS Donald Trump, yang kemudian mengucapkan selamat kepada Partai Demokrat serta mengisyaratkan keterbukaan untuk bernegosiasi.
Sebagai respons langsung, Indeks Dolar AS (DXY) yang melacak pergerakan nilai tukar terhadap enam mata uang utama anjlok lebih dari 0,47% ke level 101,41. Penurunan ini turut didorong oleh meredahnya imbal hasil Treasury AS serta penguatan pasar ekuitas, mengingat para analis mencatat bahwa pasar cenderung merespons positif kondisi politik di mana kekuasaan legislatif tidak dipegang sepenuhnya oleh satu partai saja.

Faktor Pendukung Lain: Data Ekonomi AS dan Isu Geopolitik
Selain faktor politik, pasar turut memantau sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Laporan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa ISM untuk bulan Oktober tercatat di angka 54,5, turun dari 54,9 pada bulan sebelumnya dan berada di bawah estimasi pasar yang berada di level 54,8. Meskipun subkomponen ketenagakerjaan mengalami peningkatan, pesanan baru dan harga yang dibayarkan justru melemah.
Sementara itu, data Perubahan Ketenagakerjaan ADP untuk periode yang sama menunjukkan penambahan 86 ribu pekerja di sektor swasta, melampaui prakiraan awal yang berada di angka 69 ribu. Di sisi geopolitik, negosiasi terkait konflik AS-Iran terus berlanjut meskipun terdapat insiden penghancuran drone AS, yang membuat harga minyak dunia sedikit melemah di tengah spekulasi potensi tercapainya kesepakatan damai.
Menanti Keputusan Suku Bunga Bank of England (BoE)
Perhatian para pelaku pasar kini beralih ke Inggris, di mana Bank of England (BoE) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan suku bunganya pada hari Kamis. Pasar uang telah memperhitungkan probabilitas 100% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kali ini. Selain itu, terdapat peluang sebesar 26% bagi kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan bulan Desember mendatang, menurut data dari Prime Terminal.
Prospek Teknis dan Agenda Ekonomi Mendatang
Dari sudut pandang teknis pada grafik harian, GBP/USD mempertahankan bias bullish jangka pendek. Posisi harga spot bertahan di atas moving average sederhana (SMA) terbaru di 1,3368 serta berada di atas garis tren resistance menurun yang berhasil direbut kembali pada 1,3384. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 berada di level 63, mencerminkan momentum positif yang kuat namun belum masuk kategori jenuh beli.
Beberapa poin penting terkait level teknis dan agenda mendatang meliputi:
- Support Terdekat: Berada di kisaran 1,3465, diikuti oleh area garis tren menurun di 1,3384 dan klaster SMA di 1,3368.
- Resistance Terdekat: Menghadapi batasan awal pada garis tren support miring ke atas di sekitar 1,3676.
- Agenda Ekonomi AS: Pasar menantikan rilis Klaim Tunjangan Pengangguran Awal, pidato pejabat The Fed, serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) hari Jumat dengan estimasi penambahan 65 ribu tenaga kerja.

