Euro Pertahankan Kenaikan saat Dolar AS Melemah setelah Pemilihan Umum Paruh Waktu

Posted on

EUR/USD diperdagangkan di posisi terdepan pada hari Rabu, didukung oleh pelemahan Dolar AS secara luas setelah hasil pemilihan paruh waktu AS. Pasangan mata uang ini sempat mencapai level tertinggi dalam perdagangan harian di 1,1273 sebelum akhirnya sedikit melemah karena data ekonomi AS yang tangguh membantu Greenback mendapatkan kembali sebagian posisinya. Pada saat berita ini ditulis, EUR/USD berada di sekitar 1,1235, mencatat kenaikan sebesar 0,35% pada hari ini.

Hasil pemilu menunjukkan bahwa Partai Demokrat berhasil menguasai kedua majelis Kongres, sebuah situasi yang meningkatkan risiko kebuntuan politik di Washington dan memicu tekanan jual besar terhadap Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY), yang memantau pergerakan Greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, tercatat berada di sekitar 101,45 atau turun 0,40% pada hari yang sama. Kendati demikian, indeks tersebut sempat pulih dari level terendah harian di 101,21, yang merupakan titik terlemahnya sejak 30 September.

Dampak Pasar Komoditas dan Sentimen Minyak Mentah

Di sisi lain, harga minyak dunia mengalami penurunan tajam akibat spekulasi para pedagang bahwa Kongres yang dikendalikan Partai Demokrat berpotensi membatasi pendanaan untuk kampanye militer terhadap Iran serta meningkatkan desakan untuk mengakhiri konflik tersebut. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$87 per barel, merosot 9% pada hari ini.

Penurunan harga minyak ini dapat memberikan sedikit kelegaan bagi perekonomian Zona Euro melalui penurunan biaya impor energi sekaligus meredakan tekanan inflasi secara global. Walaupun demikian, ketiadaan jalur yang jelas menuju penyelesaian damai melalui perundingan membuat ketidakpastian pasar tetap tinggi, sehingga harga minyak masih rentan terhadap fluktuasi tajam.

Data Ekonomi AS dan Prospek Suku Bunga The Fed

Dari laporan data ekonomi, ketenagakerjaan sektor swasta AS berdasarkan laporan ADP menunjukkan peningkatan sebesar 86 Ribu pada bulan Oktober, melampaui prakiraan pasar di angka 69 Ribu, sementara data bulan September direvisi turun menjadi 86 Ribu dari 90 Ribu sebelumnya. Di samping itu, Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa ISM tercatat turun ke level 54,5 dari 54,9, sedikit di bawah estimasi 54,8 namun tetap menunjukkan fase ekspansi.

Kumpulan data tersebut memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan sikap hawkish di tengah upaya para pengambil kebijakan mengembalikan inflasi ke target bank sentral sebesar 2%. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperhitungkan peluang sebesar 80% untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Desember. Perhatian para pelaku pasar kini beralih pada rilis data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan AS pada hari Kamis serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat.

Sikap Bank Sentral Eropa (ECB) Terhadap Tekanan Inflasi

Sementara itu di Zona Euro, data inflasi awal bulan Oktober yang dirilis sebelumnya memperkuat peluang kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada bulan Desember. Angka inflasi utama tercatat naik menjadi 4,0% secara tahunan (YoY) dari 3,8%, sedangkan inflasi inti bertahan di level 2,5%, yang berarti kedua indikator penting tersebut masih berada di atas target ECB sebesar 2%.

Pengambil kebijakan ECB, Klaas Knot, memberikan peringatan bahwa inflasi inti dan efek putaran kedua kemungkinan besar akan meningkat. Ia juga menambahkan bahwa bank sentral mungkin harus lebih sering mendekati target 2% dari arah atas dalam upaya menjaga stabilitas harga kawasan.