Menyeberangi Samudera Hindia atau menyusuri perkampungan di sepotong bagian Bukit Barisan merupakan bagian dari rutinitas yang harus dijalani oleh para pegawai di KPKNL Padangsidimpuan. Tugas ini menuntut ketahanan fisik dan mental yang tidak kalah pelik dibandingkan aktivitas sehari-hari di perkotaan.
Mengenal Lebih Dekat Padang Sidempuan dan Wilayah Kerjanya
Kota Padang Sidempuan berada di provinsi Sumatera Utara, dengan lokasi sekitar 150 kilometer di sisi selatan Danau Toba. Wilayah ini berbentuk lembah yang dikelilingi perbukitan, mirip dengan topografi Kota Bandung. Nama Padang Sidempuan sendiri berasal dari dua kata, yaitu “padang” yang berarti hamparan dan “dimpu” yang berarti tinggi. Dengan demikian, Padang Sidempuan dapat diartikan sebagai hamparan di tempat yang tinggi.

Dahulu, orang-orang menyebut kota ini dengan sebutan “pasar” karena posisinya sebagai pusat perdagangan dan tempat berkumpulnya masyarakat dari perbukitan sekeliling, terutama untuk komoditas salak. Meskipun kini dijuluki sebagai kota salak, perkebunan salak sebenarnya lebih banyak ditemukan di wilayah sekitarnya seperti Angkola, Merancar, dan Sayur Matinggi yang secara administratif masuk dalam Kabupaten Tapanuli Selatan.
Di kota inilah Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Padangsidimpuan beroperasi untuk mengelola kekayaan negara dan menyelenggarakan lelang. Menurut Kepala KPKNL Padangsidimpuan, Hariyadi Murti Kurniawan, wilayah kerja instansi ini meliputi wilayah Sumatera Utara bagian selatan. Batas wilayah kerjanya membentang dari Pasaman di Sumatera Barat dan Mandailing Natal di sisi timur, Padang Lawas Utara di utara, Humbang Hasundutan di barat, hingga tantangan terjauh di bagian selatan yaitu Kabupaten Nias.

Ujian Nyali Menuju Nias: Antara Udara dan Laut
Wilayah Kabupaten Nias yang berada di sebelah barat pulau Sumatera mengharuskan para pegawai KPKNL Padangsidimpuan melintasi Samudera Hindia menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. Pengalaman tugas ke wilayah ini sering kali menjadi ajang menguji nyali.
Emmi Ginting, seorang kepala seksi di KPKNL Padangsidimpuan, membagikan pengalamannya saat bertugas ke Nias lima tahun silam. Dari tiga orang tim penilai yang sudah memesan tiket pesawat, hanya Emmi yang diizinkan naik pesawat, sementara dua rekan laki-lakinya harus mengalah menempuh perjalanan laut selama 10 jam. Perjalanan udara tersebut diwarnai berbagai keunikan, mulai dari seluruh tiket penumpang yang tertera nomor kursi 10, pengaturan tempat duduk yang didasarkan pada berat badan untuk keseimbangan pesawat, hingga lepas landas di tengah cuaca hujan deras yang membuat pesawat tidak stabil. Di tengah suasana yang menegangkan tersebut, ketenangan pilot yang menyantap nasi bungkus menjadi salah satu hal yang menenangkan para penumpang.

Sementara itu, pegawai lainnya bernama Freddy Sinaga memilih moda transportasi laut untuk menuju Nias. Perjalanan dimulai dengan berkendara darat selama sekitar 3 jam dari Padang Sidempuan menuju Sibolga. Setibanya di Sibolga, penyeberangan laut ke Gunung Sitoli memakan waktu sekitar 10 hingga 12 jam, sedangkan ke Nias Selatan bisa mencapai 13 jam. Karena jadwal penyeberangan hanya tersedia pada malam hari, para pegawai yang mendapat tugas singkat harus langsung bekerja setibanya di lokasi pada pagi hari, lalu kembali bersiap menyeberang pada malam harinya untuk perjalanan pulang ke Padang Sidempuan. Fasilitas di kapal penyeberangan juga terbatas, di mana kamar tidur didapatkan berdasarkan siapa cepat dia dapat, sementara pegawai yang tidak kebagian kamar harus rela tidur di kursi-kursi kapal.
Pesona Alam dan Kekayaan Kuliner Lokal di Balik Tugas Menantang
Di balik perjalanan dinas yang menguras tenaga, wilayah kerja KPKNL Padangsidimpuan menyimpan banyak pesona alam dan kekayaan kuliner. Nur Hamidah, salah seorang pegawai KPKNL, mengungkapkan bahwa perjalanan panjang tersebut terbayar dengan keindahan alam di berbagai daerah, salah satunya Lembah Bakkara yang merupakan tempat kelahiran Sisingamangaraja.
Selain keindahan alamnya, Padang Sidempuan juga menawarkan berbagai ragam kuliner khas yang menarik untuk dicicipi, antara lain:
- Pakkat: Makanan tradisional yang terbuat dari batang rotan muda yang dibakar dan disajikan dengan sambal. Menu ini sangat populer dan banyak dicari sebagai takjil saat bulan Ramadan.
- Toge Panyabungan: Hidangan penyerupai bubur kampiun yang kaya rasa.
- Gule Holat: Sup ikan tradisional yang diolah menggunakan bumbu khas rotan muda.



