Bisnis waralaba kerap menjadi pilihan bagi calon pengusaha yang ingin memulai usaha dengan model bisnis yang telah teruji. Namun, di tengah persaingan usaha dan perubahan perilaku konsumen, calon mitra perlu mencermati lebih dari sekadar popularitas merek.
Mengapa Bisnis Waralaba Masih Menarik bagi Pemula?
CEO dan Pendiri DK Consulting Djoko Kurniawan menyatakan bahwa waralaba masih menjadi salah satu pintu masuk bagi *entrepreneur* baru untuk memulai bisnis. Hal ini tidak terlepas dari model bisnis waralaba yang memungkinkan pelaku usaha tidak harus membangun bisnis dari titik nol.
Ketika bergabung dengan waralaba, pelaku usaha pada dasarnya telah memiliki sejumlah fondasi bisnis, mulai dari merek yang sudah dikenal hingga sistem manajemen yang telah terbentuk. Terlebih, pada model *full operate*, mitra juga dapat menjalankan usaha dengan sistem yang telah teruji dan memiliki rekam jejak dalam menghasilkan keuntungan.
Bagi masyarakat yang baru pertama kali ingin masuk ke bisnis *franchise* atau kemitraan, pilihan usaha yang tersedia masih cukup beragam. Djoko mengatakan kemitraan dengan nilai investasi di bawah Rp100 juta juga masih banyak ditawarkan sehingga dapat menjadi salah satu opsi bagi calon *entrepreneur* dengan modal terbatas.
Terdapat dua model waralaba yang paling umum ditawarkan di pasar:
- Full Operate: Pembeli waralaba berperan sebagai investor pasif yang menyerahkan pengelolaan bisnis kepada operator. Model ini banyak diminati karena kebutuhan karyawan biasanya dibantu oleh *franchisor* atau pemilik bisnis.
- Owner Operate: Pembeli menjadi investor aktif yang turut terlibat langsung dalam menjalankan dan mengelola usaha sehari-hari.
Waspada Jebakan: Jangan Tergiur Janji Manis
Meski cukup ramah bagi pemula, Djoko mengingatkan bahwa pemilihan bisnis waralaba tetap perlu dilakukan secara cermat. Tidak semua pelaku usaha kemitraan atau *franchise* di Indonesia memiliki tata kelola yang baik. Sebagian bahkan hanya berorientasi mengumpulkan pembayaran di awal, tetapi tidak memberikan tanggung jawab dan dukungan yang memadai setelah calon mitra bergabung.
Sebagai contoh, calon mitra sering kali merasa tertarik setelah mengunjungi pameran dan mendapat tawaran keuntungan yang menggiurkan, kemudian langsung melakukan kesepakatan serta membayar uang muka. Namun, setelah mengecek kondisi *outlet*, calon mitra mendapati sejumlah gerai justru sepi sehingga memutuskan tidak melanjutkan kerja sama. Persoalannya, uang muka yang telah dibayarkan, misalnya sebesar Rp5 juta, berpotensi tidak dapat dikembalikan.
Proyeks penjualan yang diberikan juga sering kali hanya berupa prediksi semata, sehingga bisnis waralaba tetap memiliki risiko kerugian. Calon mitra harus memahami seluruh aspek bisnis sebelum membeli dan memastikan *franchisor* terbuka terhadap pertanyaan. Jika pengelola tidak transparan, hal itu dapat menjadi tanda untuk menghentikan investasi.
Langkah Due Diligence Sebelum Membeli Franchise
Untuk menghindari risiko kerugian dan jebakan pengelola nakal, calon mitra diimbau melakukan sejumlah langkah pengecekan (*due diligence*) sebelum membeli sebuah *franchise*:
- Menilai Respons Komunikasi: Hubungi nomor kontak yang diberikan oleh pengelola dan nilai apakah pihak manajemen merespons secara profesional dan terbuka.
- Memastikan Alamat Kantor: Pastikan bisnis tersebut memiliki kantor pusat atau domisili yang jelas dan dapat diverifikasi.
- Melakukan Survei Lapangan: Kunjungi salah satu gerainya secara langsung untuk memeriksa kondisi operasional serta membandingkan analisis bisnis yang ditawarkan dengan kenyataan di lapangan.
- Menguji Klaim Kinerja: Lakukan pengamatan serius. Jika sebuah *outlet* diklaim beroperasi selama 10 jam dengan target penjualan 200 gelas per hari, calon mitra dapat mengamati operasional selama sekitar lima jam untuk melihat apakah penjualan mendekati angka 100 gelas. Jangan hanya percaya pada angka di atas kertas.
- Mengecek Reputasi Merek: Periksa rekam jejak merek melalui internet, termasuk tingkat pengenalan publik dan potensi adanya pemberitaan negatif.
Tren Waralaba di Tengah Tantangan Daya Beli
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit mengungkapkan bahwa bisnis waralaba masih cukup diminati sepanjang tahun ini, meskipun harus menghadapi tekanan akibat pelemahan daya beli masyarakat.
Kondisi ekonomi membuat konsumen kini cenderung lebih selektif dan memilih produk dengan harga yang lebih terjangkau. Pelaku usaha waralaba merespons situasi ini dengan menyesuaikan strategi harga, seperti menawarkan paket menu kuliner dengan harga ekonomis guna menjaga tingkat permintaan pasar.
Berdasarkan sektornya, bisnis kuliner dan jasa masih menjadi primadona yang paling diminati masyarakat:
- Sektor Kuliner: Tetap memiliki pasar yang kuat karena konsumen dapat menyesuaikan pilihan produk dengan kemampuan anggaran mereka.
- Sektor Jasa: Layanan seperti jasa pendidikan informal untuk anak mendapat respons positif karena dinilai membantu orang tua mengarahkan waktu anak pada kegiatan yang bermanfaat.
Levita menyimpulkan bahwa minat terhadap bisnis waralaba masih tetap ada, namun para *franchisor* dituntut untuk menyusun strategi yang tepat. Langkah utama yang harus dilakukan meliputi menjaga kualitas produk, membaca permintaan pasar secara jeli, memperkuat *branding*, serta menghadirkan produk yang relevan dengan tren dan sesuai dengan daya beli target konsumen.



