Gaya Hidup Pet-Friendly Dorong Peluang Bisnis Baru di Indonesia

Posted on

Tren membawa hewan peliharaan ke ruang publik kini membuka pasar baru bagi bisnis yang mengusung konsep pet-friendly. Kehadiran anabul tidak lagi sekadar mendorong belanja pakan dan perawatan dasar, melainkan turut memicu permintaan terhadap ruang serta layanan yang ramah terhadap hewan.

Lonjakan Tren Gaya Hidup Ramah Hewan di Ruang Publik

Kebiasaan para pemilik hewan peliharaan yang semakin sering membawa anabul mereka berjalan-jalan di ruang publik mengubah dinamika perkotaan. Langgeng Puji (32), seorang jurnalis asal Jakarta, mengaku rutin mengajak dua anjing peliharaannya berjalan-jalan sebanyak dua kali dalam sepekan. Ia selalu memastikan untuk memilih destinasi yang menerima kehadiran hewan.

Menurut Langgeng, kawasan BSD di Tangerang menjadi salah satu tujuan favorit karena menyediakan lebih banyak ruang publik yang ramah hewan dibandingkan wilayah tempat tinggalnya. Kendati demikian, setiap kawasan atau tempat biasanya menerapkan aturan yang berbeda, mulai dari kewajiban menggunakan tali penuntun (leash), popok, hingga penggunaan stroller atau keranjang khusus selama berada di area publik.

Pergeseran Konsumsi: Dari Kebutuhan Primer ke Tersier

Dokter hewan sekaligus pemilik Erity Animal Care Service, Dara Yudha Nur Fadhilah, mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir, perhatian pemilik terhadap kesehatan serta kenyamanan hewan peliharaan terus menunjukkan peningkatan signifikan.

Kebutuhan pemilik kini berkembang pesat dari sekadar pakan, tempat tinggal, dan vaksinasi dasar ke arah tingkatan yang lebih tinggi:

  • Kebutuhan sekunder: Makanan bergizi, layanan pembersihan (grooming), suplemen, hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala.
  • Kebutuhan tersier: Perlengkapan modern seperti stroller, CCTV kandang, smart feeder, hingga smart toilet.

Menurut Dara, masyarakat saat ini lebih berani menyentuh kebutuhan sekunder dan tersier, sehingga pengeluaran (spending) untuk sektor tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum pandemi. Kecenderungan ini didorong oleh kedekatan emosional serta rasa cinta kasih dan kepemilikan yang kuat dari masyarakat terhadap hewan peliharaan mereka.

Peluang Komersial Baru bagi Pelaku Usaha dan Ajang Pameran

Perubahan perilaku konsumen tersebut turut dibaca oleh para pelaku usaha di berbagai sektor komersial. Tempat makan, pusat rekreasi, hingga industri perhotelan kini mulai melihat kebutuhan ruang ramah hewan ini sebagai pasar potensial yang terus berkembang.

Antusiasme pasar yang besar juga tercermin dalam ajang Jakarta International Pet Show (JIPS) 2026 yang diselenggarakan pada 3–5 Juli 2026. Pameran tersebut sukses mencatat sebanyak 24.387 pengunjung dan melibatkan 120 exhibitor selama tiga hari penyelenggaraannya.

Project Director JIPS 2026, Adhika Arthapaty, menyatakan bahwa para pengunjung kini tidak hanya datang semata-mata untuk membeli produk, melainkan juga aktif mencari pengetahuan serta pengalaman baru terkait perawatan hewan. Pengunjung ingin memperoleh edukasi langsung dari para ahli, berdiskusi, hingga bertemu dengan komunitas yang memiliki minat sejenis.