Kinerja fiskal Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Berdasarkan laporan APBN Kita April 2024, kondisi anggaran negara tetap terjaga surplus dan positif, meskipun pemerintah terus mewaspadai risiko pelambatan penerimaan negara akibat dinamika geopolitik dan tekanan eksternal.
Kondisi Ekonomi Global dan Dampaknya bagi Indonesia
Saat ini, kondisi ekonomi global masih terus dibayangi oleh tekanan geopolitik yang ketat. Ketegangan antara Iran dan Israel memunculkan kewaspadaan terhadap potensi perang terbuka, meskipun kedua belah pihak berkomitmen melakukan operasi militer terbatas. Situasi ini memicu risiko terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat tumbuh dengan baik, namun tingkat inflasi belum menurun secara signifikan sesuai harapan. Kondisi tersebut mendorong Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menunda penurunan suku bunga, sehingga kebijakan higher for longer masih akan terus berlangsung. Salah satu dampak yang perlu diwaspadai dari kebijakan ini adalah kecenderungan arus modal keluar atau capital outflow.
Dinamika global tersebut membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia cenderung stagnan:
- IMF: Memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia di angka 3,2 persen.
- OECD: Memproyeksikan pertumbuhan di angka 2,9 persen.
- Bank Dunia: Memproyeksikan pertumbuhan di angka 2,4 persen.
- Inflasi Global: Rata-rata berada di angka 5,9 persen, turun dari 6,8 persen pada tahun sebelumnya.
Ketahanan Ekonomi Domestik dan Pertumbuhan Kuartal I-2024
Situasi global yang melemah turut memengaruhi kinerja manufaktur dunia. Mayoritas negara di dunia mencatat PMI manufaktur yang masih kontraktif di angka 52,2 persen, sementara hanya 47,8 persen yang berada di zona ekspansif, di mana Indonesia termasuk di dalamnya.
Selain aktivitas manufaktur yang masih terjaga baik, indeks kepercayaan konsumen Indonesia juga mengalami peningkatan hingga berada di angka 127,7. Hal ini mencerminkan optimisme masyarakat yang tetap tinggi. Ditopang oleh kegiatan manufaktur yang positif dan konsumsi rumah tangga yang stabil, ekonomi Indonesia pada triwulan I-2024 tumbuh menguat mencapai 5,11 persen.
Kinerja Penerimaan Negara Per 30 April 2024
Hingga 30 April 2024, realisasi penerimaan negara telah mencapai 33,0 persen dari target APBN atau sebesar Rp924,9 triliun, yang mengalami penurunan sekitar 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penerimaan negara ini terbagi ke dalam beberapa komponen utama:
- Penerimaan Pajak: Mencapai Rp624,19 triliun atau 31,38 persen dari target APBN 2024. Penurunan ini dipengaruhi oleh pelambatan PPh nonmigas akibat penurunan profitabilitas korporasi atau badan (terutama pada sektor pertambangan dan komoditas) serta penurunan lifting PPh migas.
- Kepabeanan dan Cukai: Terealisasi sebesar Rp95,7 triliun atau 29,8 persen dari target APBN, tumbuh 1,3 persen yang didorong oleh pertumbuhan penerimaan Bea Keluar.
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Tercapai sebesar Rp203,3 triliun, tumbuh 41,3 persen dari target APBN 2024 yang didukung oleh peningkatan kinerja BUMN perbankan, layanan Kementerian/Lembaga, serta satuan kerja BLU.
Realisasi Belanja Negara dan Alokasi Sektor Prioritas
Dari sisi belanja, hingga akhir April 2024, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp849,2 triliun atau 25,5 persen dari pagu, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Belanja Pemerintah Pusat tercatat mencapai Rp591,7 triliun, yang mencakup Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp304,2 triliun dan Belanja non-K/L sebesar Rp287,6 triliun.
Pemerintah terus memprioritaskan anggaran negara untuk sektor-sektor strategis guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat:
- Pendidikan: Terealisasi Rp173,4 triliun untuk program seperti Program Indonesia Pintar, KIP Kuliah, Dana BOS, tunjangan profesi guru, hingga Kartu Prakerja.
- Kesehatan: Terealisasi Rp46,8 triliun (tumbuh 10,5 persen) yang dialokasikan untuk bantuan iuran JKN, pemeriksaan sampel obat dan makanan oleh BPOM, serta penanganan stunting.
- Dana Desa: Disalurkan sebesar Rp25,8 triliun, mengalami kenaikan tajam sebesar 25,6 persen berkat perbaikan kepatuhan desa dalam menyampaikan APBDes.


