Sejauh Mata Memandang telah lama dikenal masyarakat luas bukan sekadar sebagai sebuah label pakaian komersial. Brand ini berkembang pesat sebagai identitas mode yang membawa isu budaya, pelestarian lingkungan, serta prinsip keberlanjutan ke dalam setiap lini produknya. Di balik konsistensi dan pertumbuhan label tersebut, terdapat sosok visioner bernama Chitra Subyakto, seorang penata gaya dan busana andal yang mendirikan Sejauh Mata Memandang pada 2014.
Berdasarkan catatan dari laman Jakarta Fashion Week (JFW), pendirian brand ini dilatarbelakangi oleh kecintaan mendalam Chitra terhadap wastra Indonesia. Selain itu, terdapat pula keinginan kuat untuk melestarikan budaya lokal serta dorongan moral untuk membangun bisnis yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam. Publikasi Indonesia Produce & Brand 2024 dari Kementerian Luar Negeri RI turut mencatat Sejauh Mata Memandang sebagai pionir label tekstil tanah air yang sukses memadukan prinsip slow fashion dan sirkularitas menggunakan kain tradisional berpadu gaya kontemporer.
Transformasi Karier Chitra Subyakto: Dari Penata Gaya ke Wirausaha
Sebelum sukses membangun dan membesarkan bisnis fesyennya sendiri, Chitra telah lebih dulu menapaki jalan panjang di industri kreatif Indonesia. Perjalanan kariernya dimulai pada 2001 ketika ia bekerja sebagai penata gaya di majalah CosmoGirl! Indonesia. Pengalaman profesionalnya terus berkembang seiring berjalannya waktu melalui keterlibatan dalam berbagai proyek berskala besar, mulai dari iklan komersial, video musik, konser musik, pertunjukan teater, hingga layar lebar.
Nama Chitra semakin diperhitungkan di industri perfilman nasional ketika ia dipercaya menjadi penata kostum untuk film legendaris Indonesia, Laskar Pelangi. Jejak kesuksesannya berlanjut saat ia menangani penataan busana untuk film Athirah. Melalui karya tersebut, Chitra berhasil meraih penghargaan bergengsi sebagai Penata Busana Terbaik dari Festival Film Indonesia serta ajang Piala Maya pada 2016.
Pengalaman panjang di balik layar industri kreatif dan perfilman inilah yang kemudian menjadi modal berharga sekaligus membentuk kepekaan estetikanya. Kemampuan merajut narasi visual melalui busana membantunya merumuskan visi bisnis yang kuat ketika ia memutuskan untuk mendirikan Sejauh Mata Memandang.
Filosofi di Balik Sejauh Mata Memandang
Gagasan awal pendirian brand ini bermula dari keinginan Chitra untuk menciptakan pakaian yang terinspirasi dari busana tradisional Indonesia, namun dirancang agar relevan dan praktis untuk dikenakan dalam aktivitas keseharian. Ia juga merancang agar busana tersebut terasa nyaman saat digunakan di tengah iklim tropis Indonesia.
Pendekatan desain tersebut tercermin secara nyata dalam berbagai koleksi yang dihadirkan. Salah satu contoh ikonik adalah motif ayam yang terinspirasi dari gambar pada mangkuk makan mi yang lazim digunakan oleh para pedagang makanan di Indonesia. Motif sederhana tersebut kemudian diterjemahkan secara kreatif ke dalam produk pakaian sehari-hari dengan potongan siluet yang lebih modern.
Sejak hari pertama berdiri, Sejauh Mata Memandang secara sadar memilih untuk tidak mengikuti pola bisnis fesyen konvensional yang sangat bergantung pada siklus pergantian tren secara cepat. Brand ini secara konsisten mengusung konsep slow dan circular fashion dengan karakteristik utama sebagai berikut:
- Produk dibuat melalui kolaborasi erat bersama para pengrajin lokal dari berbagai daerah di Indonesia.
- Penggunaan material ramah lingkungan yang dipilih secara selektif, seperti katun, linen, serta tencel.
- Memadukan teknik tradisional warisan leluhur seperti batik tulis dan batik cap dengan teknik produksi modern.
- Perhatian mendalam terhadap pemilihan material dan proses pewarnaan guna menekan dampak buruk terhadap lingkungan.
Membangun Ekosistem yang Bertanggung Jawab
Perjalanan Sejauh Mata Memandang menuju model bisnis yang sepenuhnya sirkular bukanlah instan, melainkan ditempuh secara bertahap. Kepada CNA Luxury, Chitra mengungkapkan bahwa ia bersama timnya terus belajar mengenai metode produksi pakaian yang mampu menghasilkan limbah sesedikit mungkin. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka sukses mengembangkan koleksi upcycled yang memanfaatkan benang daur ulang serta pewarna alami.
Kendati demikian, Chitra menegaskan bahwa proses ini tidak serta-merta menjadikan sebuah bisnis terbebas dari limbah secara mutlak. Ia menilai bahwa aktivitas produksi fesyen apa pun pada dasarnya tetap membutuhkan sumber daya dan energi. Oleh karena itu, langkah terbaik yang bisa ditempuh adalah mengelola proses tersebut agar menjadi jauh lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Seiring dengan ekspansi bisnis yang terus berjalan, Sejauh Mata Memandang memperluas cakupan aktivitasnya ke ranah edukasi publik melalui berbagai pameran dan kolaborasi strategis. Berdasarkan data dari Studio Sejauh, label tekstil ini aktif berupaya melahirkan produk yang bersifat nature positive melalui tata kelola bisnis yang peduli pada kelestarian alam dan kebudayaan lokal.
Hingga menjelang penghujung 2024, Sejauh tercatat telah berhasil menyelenggarakan 17 pameran publik yang mengangkat beragam isu krusial seputar lingkungan hidup. Melalui kehadiran Studio Sejauh, label ini tidak hanya menjual produk pakaian, tetapi juga berfungsi sebagai ruang temu yang mempertemukan para artisan, petani, pelaku UMKM, komunitas, seniman, desainer, hingga masyarakat luas untuk bersama-sama membangun ekosistem tekstil Indonesia yang lebih berkelanjutan.



