5 Tips Bijak Berinvestasi Tanpa FOMO agar Terhindar dari Penipuan

Posted on

Tren kekinian tidak hanya terjadi di industri pakaian, kecantikan, lifestyle, dan sejenisnya, tetapi juga melanda dunia investasi. Alhasil, berbagai instrumen baru investasi yang terlihat canggih kini digandrungi oleh masyarakat luas.

Memahami Fenomena FOMO dan Risiko Tren Investasi Kekinian

Kondisi tersebut akhirnya melahirkan apa yang disebut dengan FOMO atau fear of missing out. Perasaan FOMO ini membuat seseorang merasa tidak update, tidak gaya, dan ketinggalan zaman jika tidak mengikuti tren yang sedang berlangsung. Padahal, investasi jelas bukan aktivitas yang dilakukan berdasarkan tren semata.

Di tengah rendahnya tingkat literasi keuangan di Indonesia, melek investasi adalah hal yang baik dilakukan oleh generasi milenial. Namun, langkah ini perlu dilakukan dengan hati-hati dan tidak boleh dijalankan tanpa pemahaman sama sekali. Hanya karena tergiur endorsement dari influencer dan artis, investasi yang seharusnya menjanjikan imbal hasil keuntungan justru bisa berakhir kosong.

Beberapa jenis instrumen investasi yang belakangan marak, viral, serta digemari oleh orang-orang yang mengaku kekinian antara lain aset kripto, binary option, NFT, robot trading, hingga investasi peer to peer lending (P2P). Sayangnya, beberapa dari instrumen tersebut kerap disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan kepada pelanggannya.

Terdapat banyak jenis investasi lain yang menarik untuk dicoba, tetapi tidak semuanya menjanjikan hasil positif. Oleh karena itu, investor mesti paham betul apa risiko dan skema dari investasi tersebut. Yang paling penting adalah menghindari investasi yang dilakukan sekadar ikut-ikutan.

5 Tips Bijak Berinvestasi Tanpa FOMO dan Terjebak Penipuan

FOMO merupakan sebuah pola pikir yang suka menyukai sesuatu yang sedang naik daun atau tren. Pola pikir seperti ini wajib dijauhkan dari benak Anda ketika hendak berinvestasi karena sangat rentan menjerat seseorang ke dalam investasi bodong.

Orang yang tidak memiliki pengetahuan dan hanya fokus pada FOMO merupakan target termudah untuk dijerat penipuan. Untuk membantu Anda menghindari jebakan tersebut, berikut adalah panduan praktis:

  • Waspadai iklan fantastis dan menggiurkan: Jangan mudah percaya pada tawaran keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa risiko. Selalu ingat prinsip investasi, yaitu high risk, high return.
  • Tentukan tujuan dan strategi investasi: Susun rencana yang matang agar tidak nekat mengeluarkan uang dalam nominal besar tanpa perhitungan yang jelas akibat rasa penasaran sesaat.
  • Gunakan uang dingin: Alokasikan dana di luar kebutuhan rutin dan pastikan tidak menggunakan dana yang dipersiapkan untuk tujuan keuangan prioritas, seperti dana pensiun atau dana pendidikan anak. Sesuaikan dengan kemampuan finansial Anda.
  • Kelola aspek psikologis dan emosi: FOMO sangat berkaitan erat dengan emosi atau euforia. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, pikiran akan menjadi tidak jernih saat mengambil keputusan, sehingga mudah salah dalam memilih opsi.
  • Lakukan riset dan diskusi mendalam: Cari informasi sebanyak-banyaknya untuk menganalisis instrumen yang dipilih. Anda juga bisa berdiskusi dengan teman yang sudah berpengalaman lama menggunakan instrumen tersebut atau berkonsultasi dengan ahli yang paham investasi.

Kesimpulan: Manajemen Keuangan Bersifat Personal

Apa pun jenis instrumennya, berbagai modus penipuan selalu mengintai investor, mulai dari iklan investasi bodong hingga tawaran melalui jalur pribadi seperti WhatsApp atau SMS. Ketika Anda merasa panik atau senang berlebihan terhadap suatu tren, kembalilah pada tujuan awal berinvestasi.

Tentukan kembali tujuan dan kebutuhan investasimu serta sesuaikan dengan kemampuan finansial yang ada. Manajemen keuangan pada dasarnya bersifat personal, sehingga apa yang baik dilakukan oleh orang lain belum tentu akan memberikan hasil yang baik pula untuk diri Anda.