Bayangkan kondisi trading seperti ini. Anda melihat harga mulai naik dengan cepat. Anda melihat ada kemungkinan adanya uptrend di sini dan ambil posisi buy. Namun, di titik tertentu harga perlahan-lahan turun, seperti kembali ke harga semula. Anda mulai khawatir merugi dan bersiap-siap close trade. Pada akhirnya harga naik kembali dan membuat Anda bernapas sedikit lega. Menurut Traders Family, kondisi trading seperti ini bisa diibaratkan sebagai roller coaster. Kesabaran Anda akan terus diuji dari waktu ke waktu seiring dengan naik turunnya harga.
Di saat harga naik, rasa tamak akan menguasai untuk terus menahan posisi dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Sementara di saat harga turun, Anda akan dirundung rasa khawatir kalau-kalau harga berbalik arah dan membuat Anda rugi. Untuk menghindari rasa khawatir tersebut, Anda harus mengetahui apa bedanya retracement (koreksi) dan reversal (berbalik arah). Artikel ini membahas bagaimana caranya mengenali apakah harga hanya mengalami koreksi atau justru trend berbalik arah.
Pengertian Dasar: Retracement vs Reversal dalam Trading Forex
Untuk memahami apa itu retracement dan reversal, mari kita lihat pergerakan pada pair AUD/USD H1 sebagai contoh. Retracement adalah pergerakan harga skala kecil yang arahnya berlawanan dengan trend yang sedang terjadi. Sebaliknya, reversal adalah kondisi di mana trend yang berjalan sudah kehabisan tenaga dan kemudian arah trend tersebut berbalik arah, seperti dari uptrend berubah menjadi downtrend, atau downtrend berubah menjadi uptrend.
Setelah menyentuh harga paling rendahnya, trend dapat berbalik arah. Jika Anda menganggap pergantian ini sebagai retracement, sudah pasti Anda akan rugi banyak. Oleh karena itu, mengenali karakteristik keduanya menjadi kunci penting dalam analisis teknikal.
Opsi Tindakan dan Manajemen Risiko Menghadapi Pergerakan Harga
Ketika dihadapkan pada situasi ketidakpastian antara retracement atau reversal saat posisi sudah terbuka, ada tiga opsi utama yang dapat dipertimbangkan oleh trader:
- Menahan Posisi: Tetap mempertahankan posisi karena menganggapnya hanya retracement dan trend akan berlanjut. Namun, risiko besar menanti jika ternyata yang terjadi adalah reversal.
- Menutup Posisi Sementara: Menutup posisi untuk melihat situasi lebih lanjut. Kekurangannya, Anda mungkin akan ketinggalan kereta saat harga tiba-tiba bergerak dengan tajam kembali.
- Pensiun Trading: Mengambil keputusan ekstrem seperti terus menahan posisi saat reversal atau berhenti trading karena berhasil meraup ribuan pip dengan menutup posisi di akhir trend.
Cara paling bijaksana dalam menghadapi kemungkinan retracement atau reversal adalah dengan menggunakan trailing stop loss. Jika harga hanya mengalami retracement, posisi Anda tidak akan tertutup. Namun, jika reversal terjadi, keuntungan yang sudah didapatkan tidak akan hilang begitu saja.
Perbedaan Mendasar Antara Retracement dan Reversal
Membedakan reversal dengan retracement akan membuat setiap keputusan trading menjadi lebih menguntungkan. Berikut adalah rangkuman perbandingan karakteristik keduanya:
| Karakteristik | Retracement | Reversal |
|---|---|---|
| Waktu Kejadian | Biasanya terjadi setelah pergerakan harga besar-besaran | Bisa terjadi kapan saja |
| Durasi | Berlangsung sebentar | Diikuti pergerakan harga yang cukup panjang |
| Faktor Fundamental | Faktor fundamental tidak berubah | Biasanya terjadi karena perubahan faktor fundamental |
| Kondisi Pasar Uptrend | Jumlah pembeli masih banyak, harga terus naik | Jumlah pembeli mulai sedikit, harga mulai turun |
| Kondisi Pasar Downtrend | Jumlah penjual masih banyak, harga terus turun | Jumlah penjual mulai sedikit, harga perlahan naik |
Perangkat Analisis Teknikal untuk Mendeteksi Retracement
Untuk mendeteksi apakah pergerakan harga merupakan retracement atau reversal, trader dapat memanfaatkan tiga perangkat analisis teknikal utama: Fibonacci, pivot points, dan trendline.
Menggunakan Fibonacci Retracement
Fibonacci adalah salah satu perangkat yang cukup efektif untuk mengidentifikasi retracement. Jika Anda ragu untuk buka posisi karena harga bergerak ke arah yang berlawanan di tengah uptrend atau downtrend, gunakan Fibonacci untuk menganalisis situasinya.
Pada umumnya, retracement hanya terjadi di sekitar area Fibonacci 38.2%, 50%, atau 61.8% sebelum harga kembali melanjutkan trend yang sedang berlangsung. Langkah penggunaannya:
- Tarik garis Fibonacci untuk menghubungkan swing low dan swing high.
- Perhatikan level-level Fibonacci 38.2%, 50.%, dan 61.8%.
- Apabila harga tidak bisa menembus level Fibonacci 61.8% lalu kembali melanjutkan uptrend, maka itu adalah retracement.
Memanfaatkan Pivot Points
Cara lainnya adalah dengan menggunakan pivot points. Saat pasar sedang uptrend, level yang perlu diawasi adalah support level seperti S1, S2, dan S3. Sebaliknya, saat kondisi pasar downtrend, perhatikan resistance level seperti R1, R2, dan R3.
Jika yang terjadi adalah retracement, harga tidak akan mampu menembus level support atau resistance terakhir (S3 atau R3). Namun, jika harga menembus salah satu di antara level ekstrim tersebut, maka kondisi tersebut mengindikasikan sebuah reversal.
Mendeteksi dengan Trend Lines dan Candlestick
Cara terakhir untuk mendeteksi sifat pergerakan harga adalah dengan menggunakan trendline. Tariklah garis yang menghubungkan lower high (pada uptrend) atau higher low (pada downtrend) dan pantau terus pergerakan harga terhadap garis tersebut.
Jika garis trendline dilanggar oleh pergerakan harga, maka bisa jadi sebuah reversal sedang terbentuk. Untuk mendapatkan sinyal yang lebih pasti, Anda dapat memadukan trendline dengan analisis candlestick guna memperoleh sinyal trading yang lebih kuat.



